Buku ini segurih keju parmesan. Kalau hanya melihat dari cover, kelihatannya bukunya berat. Mungkin karena tercetak kalimat "Cara Jitu Menghadapi Lika Liku Perubahan dalam Kehidupan dan Pekerjaan". Sampai-sampai saat saya posting buku ini di sosial media. Beberapa teman bilang, kalau buku ini pasti isinya berat.
Sayangnya, buku ini tergolong ringan, bahkan anak kecil saja pasti bisa
paham dengan cerita ini. Walau pun saya juga sedikit heran dengan rating 18+.
Karena setelah dibaca, tokoh yang disajikan di dalam bab who moved my cheese
itu dua kurcaci dan dua tikus. Keempat tokoh ini merupakan refleksi dari
diri kita saat menghadapi perubahan. Saya sendiri pernah jadi keempatnya dalam
momen yang berbeda. Mungkin, kalian juga saat ini menjadi salah satu dari
empat tokoh imajiner buatan Spencer
Johnson. Sniff (endus)
tikus yang mampu mengendus adanya perubahan dengan cepat. Scurry
(lacak) tikus yang segera bergegas mengambil tindakan. Hem (Kaku)
kurcaci yang menolak dan mengingkari adanya perubahan. Terakhir, Haw
(Aman) kurcaci yang baru mencoba beradaptasi jika ia melihat perubahan ternyata
mendatangkan sesuatu yang baik.
Kok seperti fabel? Bukan seperti, tapi betulan fabel untuk saya. Saya
selalu tertawa dengan kata pengantar sang penulis. Kisah ini mengusik
kecerdasan mereka, karena memang kisah ini sangat mudah dimengerti. Dan ya,
untuk beberapa rekan kerja saya, mereka bilang, buku ini sudah tidak pantas
dibaca untuk ukuran lulusan S2. Sayang sekali.
Sampai sekarang, setidaknya saya sudah membaca sampai 3 kali. Pertama
karena penasaran berkat podcast Deddy Corbuzier dengan beberapa pebisnis
ternama di Indonesia. Selalu, dia menyempatkan bertanya, pernah membaca buku
ini atau tidak. Saya bahkan membacanya melalui aplikasi iPusnas milik
Perpustakaan Indonesia, gratis. Kedua, perusahaan saya memutuskan untuk tidak
memperpanjang kontrak dengan beberapa karyawan karena project dari sebagian
klien terhenti berkat Covid-19. Gelombang panik dan marah berdatangan. Saya
mencoba kembali membaca dan menemukan, 'ah kalau saya diberhentikan, berarti
cheese saya di tempat lain'. Dan yang ketiga, saat saya mengikuti tes CPNS
dan merasa nilai saya terlalu rendah untuk lulus. Kali ini saya berpikir lain,
'Kalau tidak lulus, berarti cheese saya belum habis di perusahaan ini'.
Tapi saya masih berharap cheese saya dipindahkan di tempat saya melamar menjadi
ASN. Haha
Satu hal yang baru saya sadari selama membaca buku ini. Proses perubahan
yang selalu membuat saya merasa kecolongan. Sama persis seperti tulisan yang
pernah Haw tulis di dinding labirin. Enduslah cheese sesering mungkin
sehingga anda tahu kapan mulai membusuk. Karena perubahan selalu terjadi,
maka kita harus memperhatikan perubahan itu sendiri. Jadi, ayo bergerak bersama
cheese!!
Judul : Who
Moved My Cheese
Pengarang
: Spencer Johnson, M.D.
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Genre : Self-Improvement
Rate : 18+ (padahal kaya fabel)
Harga
: Rp. 98.800
Ipusnas :
Tersedia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar