Senin, 28 September 2020

[REVIEW] WHO MOVED MY CHESEE

 

Buku ini segurih keju parmesan. Kalau hanya melihat dari cover, kelihatannya bukunya berat. Mungkin karena tercetak kalimat "Cara Jitu Menghadapi Lika Liku Perubahan dalam Kehidupan dan Pekerjaan". Sampai-sampai saat saya posting buku ini di sosial media. Beberapa teman bilang, kalau buku ini pasti isinya berat. 


Sayangnya, buku ini tergolong ringan, bahkan anak kecil saja pasti bisa paham dengan cerita ini. Walau pun saya juga sedikit heran dengan rating 18+. Karena setelah dibaca, tokoh yang disajikan di dalam bab who moved my cheese itu dua kurcaci dan dua tikus. Keempat tokoh ini merupakan refleksi dari diri kita saat menghadapi perubahan. Saya sendiri pernah jadi keempatnya dalam momen yang berbeda. Mungkin, kalian juga saat ini menjadi salah satu dari empat tokoh imajiner buatan Spencer JohnsonSniff (endus) tikus yang mampu mengendus adanya perubahan dengan cepat. Scurry (lacak) tikus yang segera bergegas mengambil tindakan. Hem (Kaku) kurcaci yang menolak dan mengingkari adanya perubahan. Terakhir, Haw (Aman) kurcaci yang baru mencoba beradaptasi jika ia melihat perubahan ternyata mendatangkan sesuatu yang baik. 

 

Kok seperti fabel? Bukan seperti, tapi betulan fabel untuk saya. Saya selalu tertawa dengan kata pengantar sang penulis. Kisah ini mengusik kecerdasan mereka, karena memang kisah ini sangat mudah dimengerti. Dan ya, untuk beberapa rekan kerja saya, mereka bilang, buku ini sudah tidak pantas dibaca untuk ukuran lulusan S2. Sayang sekali.

 

Sampai sekarang, setidaknya saya sudah membaca sampai 3 kali. Pertama karena penasaran berkat podcast Deddy Corbuzier dengan beberapa pebisnis ternama di Indonesia. Selalu, dia menyempatkan bertanya, pernah membaca buku ini atau tidak. Saya bahkan membacanya melalui aplikasi iPusnas milik Perpustakaan Indonesia, gratis. Kedua, perusahaan saya memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak dengan beberapa karyawan karena project dari sebagian klien terhenti berkat Covid-19. Gelombang panik dan marah berdatangan. Saya mencoba kembali membaca dan menemukan, 'ah kalau saya diberhentikan, berarti cheese saya di tempat lain'. Dan yang ketiga, saat saya mengikuti tes CPNS dan merasa nilai saya terlalu rendah untuk lulus. Kali ini saya berpikir lain, 'Kalau tidak lulus, berarti cheese saya belum habis di perusahaan ini'. Tapi saya masih berharap cheese saya dipindahkan di tempat saya melamar menjadi ASN. Haha

 

Satu hal yang baru saya sadari selama membaca buku ini. Proses perubahan yang selalu membuat saya merasa kecolongan. Sama persis seperti tulisan yang pernah Haw tulis di dinding labirin. Enduslah cheese sesering mungkin sehingga anda tahu kapan mulai membusuk. Karena perubahan selalu terjadi, maka kita harus memperhatikan perubahan itu sendiri. Jadi, ayo bergerak bersama cheese!! 

 


Judul : Who Moved My Cheese

Pengarang : Spencer Johnson, M.D.

Penerbit : PT Elex Media Komputindo

Genre : Self-Improvement

Rate : 18+ (padahal kaya fabel)

Harga : Rp. 98.800

Ipusnas : Tersedia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[REVIEW] Norwegian Wood

  Sama seperti mendengar lagu The Beatles dengan judul yang sama. Rasa manis, pahit bahkan kecutnya sama persis. Sekarang saya paham, ternya...